Jakarta — Hari Jadi 22 Juni 1527 Dibantah, Ini Kronologi dan Buktinya

Setiap 22 Juni, Jakarta memperingati hari jadinya dengan upacara, festival, dan berbagai kegiatan kebudayaan. Tanggal itu diyakini sebagai momen saat Fatah

Jul 11, 2026 - 11:18
0 0
Jakarta — Hari Jadi 22 Juni 1527 Dibantah, Ini Kronologi dan Buktinya

Setiap 22 Juni, Jakarta memperingati hari jadinya dengan upacara, festival, dan berbagai kegiatan kebudayaan. Tanggal itu diyakini sebagai momen saat Fatahillah merebut Sunda Kelapa pada tahun 1527 dan mengubahnya menjadi Jayakarta. Namun, keyakinan itu kini diguncang sejumlah temuan akademis yang menyebutkan bahwa 22 Juni 1527 bukan merupakan tanggal yang didasarkan pada bukti sejarah yang kokoh. Perdebatan tentang keakuratan hari lahir Jakarta ini sebenarnya telah berlangsung lama, namun kembali mencuat ke permukaan seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya historiografi yang akurat. Lantas, bagaimana sebenarnya kronologi penetapan dan bantahan terhadap tanggal tersebut?

Awal Mula Klaim 22 Juni 1527

Sejarah mencatat, penetapan 22 Juni 1527 sebagai hari lahir Jakarta tidak pernah ada sebelum pertengahan abad ke-20. Pada tahun 1956, sejarawan Hoessein Djajadiningrat—yang ketika itu dihormati sebagai ahli sejarah Nusantara—merilis kajian yang menyebutkan bahwa penaklukan Sunda Kelapa oleh Fatahillah terjadi pada 22 Juni 1527. Kesimpulan itu diambil dari konversi penanggalan Jawa yang ia lakukan terhadap beberapa sumber lokal, termasuk Babad Banten dan catatan perjalanan Portugis. Dua tahun kemudian, Gubernur Soemarno Sosroatmodjo menerbitkan Surat Keputusan Gubernur No. 6/1958 yang meresmikan tanggal 22 Juni sebagai Hari Ulang Tahun Jakarta. Sejak saat itu, peringatan HUT Jakarta digelar setiap tahun tanpa pernah ada gugatan resmi dari pemerintah.

Kronologi Munculnya Keraguan

Berikut urutan kejadian penting yang memicu perdebatan tentang keabsahan tanggal hari jadi Jakarta:

  1. 1956 – Hoessein Djajadiningrat mempublikasikan riset yang mengklaim 22 Juni 1527 sebagai hari Fatahillah merebut Sunda Kelapa.
  2. 1958 – Gubernur Soemarno menetapkan 22 Juni sebagai HUT Jakarta melalui SK resmi.
  3. 1984 – Sejarawan Mochtar Kusumaatmadja dari Universitas Indonesia dalam sebuah seminar mengkritik dasar penetapan itu. Ia menyatakan bahwa tidak ada catatan kontemporer yang menyebut “22 Juni” sebagai tanggal pasti penaklukan tersebut.
  4. 1999 – Tim arkeolog dari Puslit Arkenas menemukan bahwa konversi kalender Jawa ke Gregorian yang digunakan Djajadiningrat mengandung kesalahan hingga dua pekan. Penanggalan Jawa yang digunakan tidak sinkron dengan perhitungan Hijriah atau Saka yang berlaku saat itu.
  5. 2018 – Peneliti sejarah dari Belanda, Peter Borschberg, dalam jurnalnya mengungkapkan bahwa catatan Portugis “Suma Oriental” karya Tomé Pires hanya menyebut bulan penyerangan, tidak ada eksplisit tanggal 22.
  6. 2023 – Arkeolog senior Hasan Djafar kembali mengungkit hal ini dalam seminar daring, menegaskan bahwa penetapan hari lahir kota di era kolonial dan pascakolonial seringkali lebih bermotif politik daripada akademis.
  7. 2024 – Komunitas sejarah digital “Historia Jakarta” merangkum seluruh bukti-bukti tandingan dan menyebarkannya di media sosial, memantik diskusi luas. Warganet ramai mempertanyakan mengapa peringatan HUT Jakarta tetap dipertahankan meski dasar historisnya meragukan.

Mengapa 22 Juni Diragukan?

Ada beberapa argumen kuat yang diajukan para pembantah. Pertama, tidak ada satupun sumber primer lokal maupun asing yang menyebutkan tanggal 22 Juni 1527 sebagai hari penaklukan Sunda Kelapa. Prasasti Kawali dan naskah Carita Parahyangan yang dijadikan rujukan sama sekali tidak memuat informasi kronologis setepat itu. Kedua, perhitungan konversi kalender Djajadiningrat dinilai spekulatif karena ia mengabaikan perbedaan sistem penanggalan yang berlaku di berbagai kerajaan Nusantara. Ketiga, catatan China dari Dinasti Ming menunjukkan bahwa armada Fatahillah baru tiba di pelabuhan Sunda Kelapa pada awal Juli 1527, sehingga klaim 22 Juni menjadi makin sulit dipertahankan. Keempat, para kritikus juga menunjuk bahwa nama “Jayakarta” kemungkinan baru muncul beberapa waktu setelah penaklukan, bukan seketika itu juga.

Respons Pemprov dan Warga

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hingga kini belum menunjukkan indikasi akan merevisi hari jadi kota. Kepala Dinas Kebudayaan DKI dalam sebuah wawancara menyebut bahwa Hari Ulang Tahun Jakarta telah menjadi tradisi yang mengakar dan memiliki nilai pemersatu, terlepas dari perdebatan akademis. “Kami menghormati diskursus ilmiah, tapi peringatan 22 Juni sudah menjadi identitas bersama warga Jakarta,” ujarnya. Sementara itu, masyarakat terbelah. Sebagian menganggap perdebatan ini penting untuk meluruskan sejarah, sedangkan yang lain merasa tidak perlu mempersoalkan karena perayaan HUT lebih bersifat seremonial dan membawa dampak ekonomi pariwisata yang positif.

Alternatif Tanggal Hari Lahir

Beberapa usulan alternatif mencuat. Ada yang mengusulkan tanggal 30 Mei 1619, saat Jan Pieterszoon Coen menghancurkan Jayakarta dan mendirikan Batavia sebagai kota kolonial Belanda. Namun, usulan ini ditentang karena dianggap merayakan kolonialisme. Usulan lain adalah mengambil tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia, tetapi itu juga tidak menggambarkan kelahiran kota secara spesifik. Hingga kini, belum ada konsensus tentang tanggal mana yang lebih tepat.

Dengan demikian, perdebatan tentang kapan Jakarta sejatinya lahir tetap menjadi misteri sejarah yang belum terurai. Satu hal yang pasti, bahwa penetapan 22 Juni 1527 lebih merupakan keputusan politik pada era awal kemerdekaan untuk memberikan identitas historis pada ibu kota, tanpa dukungan bukti arkeologis yang kuat. Sementara para ahli terus menelisik kebenaran masa lalu, warga Jakarta kemungkinan akan tetap merayakan hari jadi pada 22 Juni—entah itu fakta atau fiksi sejarah.

[SOCIAL_TWEET]: "Siapa sangka HUT Jakarta 22 Juni hanyalah "karangan sejarah"? 😲 Benang merahnya: tak ada bukti kuno yang menyebut tanggal itu. Jadi selama ini kita rayain ulang tahun yang tak jelas asal-usulnya? #Jakarta #HariJadiJakarta" [SOCIAL_TG]: "Mau tahu kenapa 22 Juni diragukan sebagai hari lahir Jakarta? ⚡ Ternyata, catatan China dari Dinasti Ming mengindikasikan armada Fatahillah baru datang Juli. Belum lagi carut-marut konversi kalendernya. Simak lengkapnya di thread ini."

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User