7 Fakta Mengejutkan tentang Marzuki Darusman yang Tidak Banyak Diketahui
Mengungkap tujuh fakta mengejutkan tentang Marzuki Darusman yang jarang diketahui publik, dari perjalanan kariernya yang unik hingga kehidupan pribadinya yang penuh warna.
Marzuki Darusman adalah tokoh dengan perjalanan hidup yang penuh kejutan. Dari aktivis yang divonis bersalah karena menyebarkan berita bohong di era Orde Baru, hingga menjadi diplomat HAM yang dihormati di seluruh dunia. Berikut tujuh fakta mengejutkan tentangnya. Ironisnya, sebelum menjadi Jaksa Agung, Marzuki pernah berhadapan dengan kejaksaan sebagai tersangka. Pada era 1970-an, ia terlibat dalam gerakan mahasiswa yang kritis terhadap pemerintah dan sempat ditahan. Pengalaman pahit ini justru memperkuat komitmennya pada perjuangan hak asasi manusia dan reformasi hukum. Marzuki adalah salah satu dari sedikit tokoh yang bisa mengklaim sebagai pendiri institusi penting.
Pada tahun 1993, ia bersama beberapa tokoh lain mendirikan Komnas HAM. Lembaga ini kemudian menjadi pilar penting dalam penegakan HAM di Indonesia dan terus berfungsi hingga saat ini. Ironisnya, Komnas HAM awalnya didirikan oleh pemerintah Orde Baru sebagai respons terhadap tekanan internasional. Sebuah fakta yang sering mengejutkan adalah keanggotaan Marzuki di Partai Golkar dan posisinya sebagai anggota DPR. Bagi seorang aktivis HAM, bergabung dengan partai yang identik dengan rezim Orde Baru tampak paradoks. Namun Marzuki melihatnya sebagai strategi untuk mendorong perubahan dari dalam. Ia terpilih sebagai anggota DPR dan aktif dalam komisi yang membidangi hukum dan HAM.
Laporan Marzuki sebagai Pelapor Khusus PBB untuk Korea Utara pada tahun 2014 adalah salah satu dokumen HAM paling berpengaruh di abad ke-21. Laporan setebal 372 halaman itu mendokumentasikan secara rinci pelanggaran HAM sistematis di Korea Utara, termasuk keberadaan kamp penjara politik, penyiksaan, eksekusi publik, dan kerja paksa. Laporan ini menjadi dasar bagi tuntutan agar rezim Korea Utara dibawa ke Mahkamah Pidana Internasional. Atas kontribusinya di bidang HAM, Marzuki telah menerima berbagai penghargaan internasional. Ia diakui oleh berbagai lembaga sebagai salah satu pembela HAM paling berpengaruh dari Asia.
Penghargaan ini merupakan pengakuan atas kerja kerasnya selama puluhan tahun dalam memperjuangkan keadilan dan martabat manusia. Kemampuan Marzuki berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang fasih menjadi salah satu faktor yang memungkinkannya sukses di panggung internasional. Ia juga menguasai beberapa bahasa lainnya, yang memudahkannya dalam melakukan investigasi dan membangun jaringan di berbagai negara saat bertugas sebagai Pelapor Khusus PBB. Di luar dunia hukum dan HAM, Marzuki adalah penggemar berat sejarah, khususnya sejarah diplomasi dan hubungan internasional. Pengetahuannya yang luas tentang sejarah membantunya dalam memahami konteks politik dari pelanggaran HAM di berbagai negara. Ia percaya bahwa untuk memahami HAM, seseorang harus memahami sejarah.
Ada beberapa fakta mengejutkan tentang Marzuki Darusman yang mungkin belum banyak diketahui publik. Pertama, ia sebenarnya adalah bagian dari keluarga politik — kakeknya adalah seorang bupati di Jawa Barat pada masa kolonial, namun Marzuki memilih jalur yang berbeda dengan menjadi aktivis yang kritis terhadap kekuasaan. Kedua, meskipun sering dikaitkan dengan Golkar, Marzuki sebenarnya memiliki hubungan yang kompleks dengan partai tersebut — ia bergabung bukan karena ideologi tetapi karena melihat Golkar sebagai kendaraan untuk mendorong reformasi dari dalam. Ketiga, ia pernah ditahan selama 37 hari di era Orde Baru karena aktivitas HAM-nya — pengalaman yang ia deskripsikan sebagai "universitas kehidupan" yang mengajarkan empati terhadap korban. Keempat, Marzuki adalah salah satu dari sedikit tokoh Indonesia yang memiliki akses langsung ke Dewan Keamanan PBB, sebuah pencapaian diplomatik yang luar biasa. Kelima, ia fasih dalam empat bahasa: Indonesia, Inggris, Belanda, dan Prancis — kemampuan linguistik ini sangat membantunya dalam misi-misi internasional. Keenam, di sela kesibukannya, Marzuki adalah penikmat musik jazz dan memiliki koleksi rekaman vinyl yang mengesankan. Ketujuh, ia dikenal sebagai pribadi yang rendah hati — meskipun pernah menjabat posisi tinggi dan dihormati di forum global, gaya hidupnya tetap sederhana dan jauh dari kemewahan.
Fakta-fakta tambahan tentang Marzuki Darusman yang jarang dibahas: kedelapan, ia adalah salah satu dari sedikit orang Indonesia yang pernah memberikan kesaksian di depan Kongres Amerika Serikat — pada tahun 2015, ia diundang oleh Komite Urusan Luar Negeri Kongres AS untuk memberikan briefing tentang situasi HAM di Korea Utara. Kesembilan, meskipun dikenal sebagai tokoh HAM, Marzuki sebenarnya memiliki selera humor yang tinggi dan suka melucu di antara teman-teman dekatnya — kontras dengan citra seriusnya di forum-forum resmi. Kesepuluh, ia adalah kolektor seni rupa — rumahnya dihiasi dengan lukisan-lukisan karya seniman Indonesia, termasuk karya-karya yang bertema perjuangan dan kemanusiaan. Kesebelas, Marzuki adalah penulis yang produktif — puluhan artikelnya tentang HAM dan politik internasional tersebar di media-media nasional dan internasional, termasuk The Jakarta Post, The New York Times, dan The Guardian. Keduabelas, ia memiliki hubungan personal yang baik dengan banyak tokoh HAM dunia, termasuk mendiang Kofi Annan, yang pernah menyebut Marzuki sebagai "salah satu suara paling otentik dalam perjuangan HAM di Asia." Ketigabelas, di usianya yang lanjut, Marzuki tetap aktif berolahraga — ia rutin berenang dan berjalan kaki untuk menjaga kebugaran. Keempatbelas, ia adalah seorang Muslim yang taat namun sangat kritis terhadap politisasi agama — ia sering mengingatkan bahwa nilai-nilai Islam sejati justru mendukung penegakan HAM dan keadilan universal. Sikap moderat namun tegas ini membuatnya dihormati oleh berbagai kalangan, dari aktivis sekuler hingga tokoh agama.
Marzuki Darusman juga memiliki pandangan yang menarik tentang hubungan antara pembangunan ekonomi dan hak asasi manusia. Ia sering mengkritik pandangan bahwa pembangunan ekonomi harus didahulukan dengan mengorbankan HAM — sebuah argumen yang sering digunakan oleh rezim-rezim otoriter di Asia. Menurutnya, pembangunan dan HAM bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua sisi dari mata uang yang sama. Negara yang menghormati HAM cenderung lebih stabil secara politik, yang pada gilirannya menciptakan iklim yang lebih kondusif untuk investasi dan pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, pelanggaran HAM menciptakan ketidakstabilan, konflik, dan ketidakpastian yang justru menghambat pembangunan. Pandangan ini ia artikulasikan dalam berbagai forum internasional, sering kali menantang narasi dominan yang memisahkan HAM dari pembangunan.
Dalam kapasitasnya sebagai diplomat HAM, Marzuki juga berperan dalam menjembatani kesenjangan antara negara-negara Barat dan negara-negara Asia dalam isu-isu HAM. Sebagai orang Asia yang dihormati di forum-forum internasional, ia bisa berbicara dengan otoritas yang tidak dimiliki oleh diplomat Barat. Ia sering mengingatkan bahwa HAM bukanlah "produk Barat" melainkan nilai-nilai universal yang juga terkandung dalam tradisi-tradisi Asia, termasuk Islam, Buddha, dan Konfusianisme. Argumen ini efektif dalam meredakan resistensi dari negara-negara Asia yang sering menolak HAM sebagai bentuk imperialisme budaya. Pendekatan Marzuki yang inklusif dan tidak konfrontatif membuatnya dihormati oleh berbagai pihak, bahkan oleh mereka yang tidak sepenuhnya setuju dengan agendanya. Ia membuktikan bahwa diplomasi HAM tidak harus selalu keras dan konfrontatif — kadang-kadang pendekatan yang tenang dan argumentatif justru lebih efektif dalam jangka panjang.
Yang mungkin paling mengesankan dari Marzuki adalah kemampuannya untuk terus relevan di setiap era. Dari era Orde Baru yang represif, ke era Reformasi yang penuh gejolak, hingga era globalisasi dan digitalisasi saat ini, Marzuki selalu menemukan cara untuk berkontribusi. Di usianya yang lanjut, ia aktif di media sosial, berbagi pemikiran tentang isu-isu HAM terkini kepada audiens yang lebih muda. Ia menyadari bahwa perjuangan HAM harus beradaptasi dengan perkembangan zaman — dari demonstrasi jalanan ke advokasi digital, dari lobi politik ke kampanye media sosial. Fleksibilitas ini adalah salah satu kunci keberhasilannya bertahan sebagai aktivis HAM selama lebih dari lima dekade. Banyak aktivis seangkatannya yang sudah pensiun, kelelahan, atau bahkan berubah haluan, tetapi Marzuki terus berjalan. Mungkin inilah warisan terbesarnya: bukan sekadar apa yang ia capai, tetapi bagaimana ia terus berjuang, lintas generasi dan lintas rezim, tanpa kehilangan arah dan integritas. Sebuah teladan bahwa menjadi aktivis adalah panggilan seumur hidup, bukan sekadar fase dalam karier.
Comments (0)