Jakarta — Pemerintah menegaskan komitmen mempercepat penyebaran Papan Interaktif Digital di ruang-ruang kelas sekolah dasar hingga menengah di seluruh Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Sugiono menyatakan pihaknya tengah mengupayakan agar setiap kelas memiliki perangkat papan digital interaktif sebagai bagian dari transformasi pendidikan berbasis teknologi.
Dalam berbagai kesempatan, Sugiono menekankan bahwa kehadiran papan interaktif bukan sekadar soal kemewahan fasilitas, melainkan soal pemerataan kualitas pembelajaran antara sekolah perkotaan dan daerah terpencil. Ekspektasi terbesar dari kebijakan ini adalah anak-anak di pulau terluar bisa belajar dengan standar yang sama dengan anak-anak di ibu kota.
Alasan Pemerintah Dorong Papan Interaktif
Adopsi teknologi di ruang kelas dianggap sebagai langkah strategis untuk menjawab tantangan pembelajaran abad ke-21. Selama ini, sebagian besar guru di daerah masih bergantung pada papan tulis dan kapur, sementara konten pembelajaran interaktif belum merata. Papan interaktif digital memungkinkan guru menampilkan simulasi, video, hingga model tiga dimensi yang membuat materi rumit seperti sains dan matematika lebih mudah dicerna siswa.
Menko PMK menjelaskan bahwa pemerintah menyiapkan skema bertahap karena anggaran dan distribusi perangkat ke daerah membutuhkan koordinasi lintas kementerian. Program ini juga terhubung dengan penguatan infrastruktur internet sekolah, pelatihan guru, serta penyediaan konten digital lokal.
"Kita upayakan setiap kelas punya papan interaktif digital. Ini bagian dari merdeka belajar, supaya guru punya alat yang memadai dan siswa belajar dengan cara yang lebih menarik," ujar Sugiono.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah memandang papan digital sebagai instrumen penyetaraan, bukan sekadar pelengkap. Target utamanya adalah pemerataan akses, bukan sekadar penambahan jumlah perangkat di sekolah-sekolah yang sudah maju.
Tantangan di Lapangan
Namun, upaya ini menghadapi sejumlah hambatan nyata. Banyak sekolah di wilayah timur Indonesia yang masih bergelut dengan pasokan listrik stabil dan koneksi internet lambat. Tanpa dua komponen tersebut, papan interaktif berisiko hanya menjadi perangkat menganggur. Selain itu, harga perangkat dan biaya pemeliharaan menjadi pertimbangan serius pemerintah daerah.
| Aspek | Perkotaan | Daerah Terpencil |
|---|---|---|
| Koneksi internet | Cukup stabil | Sering terputus |
| Pelatihan guru | Relatif tersedia | Terbatas |
| Pemeliharaan alat | Mudah diakses | Teknisi langka |
Di sisi lain, sejumlah pakar pendidikan mengingatkan bahwa perangkat tanpa pendampingan guru yang kompeten tidak akan optimal. Teknologi hanyalah alat; kualitas guru yang menentukan hasil belajar siswa. Karena itu, pelatihan dan pendampingan guru disebut sebagai syarat keberhasilan program.
Langkah Selanjutnya
Pemerintah dijadwalkan terus mematangkan mekanisme pengadaan, pendistribusian, serta pendampingan penggunaan papan interaktif di sekolah. Sekolah yang telah siap infrastruktur menjadi prioritas awal, disusul pemerataan ke daerah tertinggal secara bertahap.
Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap ekosistem belajar digital tumbuh sehat: perangkat tersedia, guru terlatih, konten berkualitas, dan infrastruktur memadai. Kebijakan ini pada akhirnya mengejar satu tujuan sederhana — memastikan tidak ada anak Indonesia yang tertinggal hanya karena tempat ia bersekolah.
Comments (0)