Sep 21, 2026
Nasional

JAKARTA — ASEAN Impor Teknologi Bersih China Senilai Rp350 Triliun

Langkah taktis negara-negara di Asia Tenggara dalam memacu akselerasi transisi energi hijau kian memperlihatkan ketergantungan yang kuat pada raksasa ekono

JAKARTA — ASEAN Impor Teknologi Bersih China Senilai Rp350 Triliun

Langkah taktis negara-negara di Asia Tenggara dalam memacu akselerasi transisi energi hijau kian memperlihatkan ketergantungan yang kuat pada raksasa ekonomi Asia, Tiongkok. Kawasan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mencatatkan nilai transaksi yang fantastis dalam pengadaan infrastruktur ramah lingkungan. Berdasarkan data ekonomi terbaru, total nilai impor teknologi bersih dari Negeri Tirai Bambu ke kawasan ASEAN kini telah menembus angka spektakuler Rp350 triliun. Angka monumental ini mencakup berbagai komoditas utama pendukung energi terbarukan, mulai dari modul panel surya, komponen baterai kendaraan listrik (EV), hingga turbin angin skala industri.

Peningkatan pesat transaksi ini terjadi seiring pesatnya komitmen negara-negara di kawasan untuk memangkas emisi karbon dan mencapai target net zero emission (NZE) dalam beberapa dekade mendatang. Tiongkok, dengan kapasitas manufaktur yang masif serta efisiensi rantai pasok yang sulit ditandingi, menjadi pilihan utama bagi negara-negara berkembang di Asia Tenggara untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur hijau mereka secara cepat dan ekonomis.

Dominasi Tiongkok dalam Rantai Pasok Energi Hijau ASEAN

Pengadaan teknologi bersih ini tidak hanya terpusat pada satu sektor saja, melainkan tersebar luas di berbagai sektor strategis pendukung transisi energi. Sektor fotovoltaik atau panel surya serta komponen baterai tercatat menjadi penyumbang nilai impor terbesar. Tingginya permintaan energi terbarukan di negara-negara seperti Indonesia, Vietnam, Malaysia, dan Thailand membuat volume pengiriman dari pabrikan Tiongkok melonjak tajam dalam kurun waktu setahun terakhir.

Berikut adalah gambaran perkiraan alokasi impor teknologi bersih Tiongkok oleh kawasan ASEAN:

Sektor Teknologi Bersih Estimasi Proporsi Impor Fokus Penggunaan Utama
Panel Surya & Sel Fotovoltaik 45% Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Skala Besar
Baterai & Komponen EV 35% Ekosistem Kendaraan Listrik dan Penyimpanan Energi
Turbin Angin & Generator 15% Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Pesisir
Perangkat Efisiensi & Grid 5% Digitalisasi dan Modernisasi Jaringan Listrik

Efisiensi biaya dan kematangan teknologi menjadi alasan mendasar mengapa ASEAN begitu bergantung pada pasokan Tiongkok. Produsen Tiongkok mampu menawarkan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan pemasok dari Eropa atau Amerika Serikat, tanpa mengorbankan standar performa yang dibutuhkan untuk proyek-proyek energi skala besar.

Tantangan Ketergantungan dan Urgensi Transfer Teknologi

Kendati aliran impor ini berhasil mempercepat akselerasi energi terbarukan di kawasan, sejumlah analis memperingatkan adanya risiko kerentanan rantai pasok jika ASEAN terlalu bergantung pada satu negara produsen. Gejolak geopolitik dan dinamika perdagangan global dapat sewaktu-waktu mengganggu kestabilan pasokan energi di Asia Tenggara.

"Nilai transaksi sebesar Rp350 triliun ini menunjukkan komitmen serius ASEAN terhadap energi bersih, namun di sisi lain menggarisbawahi perlunya transfer teknologi secara berkelanjutan. ASEAN tidak boleh sekadar menjadi pasar konsumen, melainkan harus bertransformasi menjadi pusat manufaktur teknologi hijau di masa depan," tegas Budi Santoso, Analis Senior Ekonomi Energi Kawasan.

Oleh karena itu, dorongan untuk melakukan lokalisasi industri dan skema kemitraan manufaktur bersama (joint venture) terus disuarakan oleh para praktisi ekonomi. Negara-negara seperti Indonesia dan Malaysia mulai memperketat aturan syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar arus impor teknologi bersih ini diimbangi dengan penyerapan tenaga kerja lokal serta pengembangan kapasitas industri nasional.

Akselerasi Transisi Energi Menuju Net Zero Emission

Penguatan kerja sama ekonomi hijau antara ASEAN dan Tiongkok diproyeksikan akan tetap solid dalam beberapa tahun mendatang. Sejumlah proyek percontohan pembangkit listrik tenaga surya terapung dan jaringan penyimpanan energi skala megawatt saat ini sedang dibangun di berbagai kawasan industri strategis di Asia Tenggara dengan mengandalkan dukungan teknologi asal Tiongkok.

Dengan arus investasi dan impor teknologi bersih yang mencapai Rp350 triliun ini, Asia Tenggara optimistis dapat mengurangi ketergantungan pada energi berbasis fosil secara bertahap. Kunci keberhasilan transisi ini akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah kawasan dalam mengimbangi pesatnya impor dengan regulasi yang ramah investasi serta pembentukan rantai pasok domestik yang mandiri dan tangguh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User