Oct 13, 2026
Nasional

Ketua Jakmania Buka Suara soal Bus Persib EPA yang Diserang

Jakarta — Ketua Umum Jakmania, Muhammad Aditya Putra, akhirnya buka suara menanggapi kabar penyerangan terhadap bus rombongan pemain Persib Bandung Elite P

Ketua Jakmania Buka Suara soal Bus Persib EPA yang Diserang

Jakarta — Ketua Umum Jakmania, Muhammad Aditya Putra, akhirnya buka suara menanggapi kabar penyerangan terhadap bus rombongan pemain Persib Bandung Elite Pro Academy (EPA) oleh oknum tak dikenal. Ia menegaskan bahwa insiden tersebut tidak mencerminkan nilai-nilai suporter dan meminta aparat kepolisian mengusut tuntas pelaku hingga ke akar-akarnya.

Dalam pernyataannya, Aditya menekankan bahwa Jakmania sebagai organisasi suporter terbesar di Indonesia selalu mengedepankan sportivitas dan kedamaian. Menurutnya, aksi anarkis yang menyasar rombongan pemain muda, apa pun latar belakangnya, adalah tindakan kriminal yang harus diproses secara hukum. "Ini bukan soal rivalitas, tapi soal menjaga marwah sepak bola Indonesia," ujarnya menegaskan.

Kabar penyerangan itu sendiri pertama kali menyebar melalui media sosial. Bus yang mengangkut para penggawa Maung Ngora dikabarkan dilempari oleh oknum tak dikenal, meski hingga kini belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun luka berat. Pihak berwenang pun diminta mendalami rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi kejadian untuk mengidentifikasi para pelaku.

Analisis: Keamanan Suporter dan Regenerasi Sepak Bola

Insiden ini menyoroti dua persoalan besar sekaligus: keamanan pertandingan usia muda dan rivalitas suporter yang kerap melampaui batas. Persib Bandung, klub yang berdiri sejak 1933, memiliki sejarah panjang bersama Jakmania yang lahir pada 1997. Namun, rivalitas dengan kelompok suporter lain kerap memicu gesekan di luar stadion, bahkan hingga ke level pembinaan.

EPA sendiri merupakan kompetisi pembinaan usia muda yang diikuti kategori U-16, U-18, dan U-20. Turnamen ini menjadi pilar regenerasi pemain nasional. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, bahkan menargetkan EPA sebagai ajang pencarian bakat terbaik bagi timnas Indonesia. Ironisnya, justru di ajang pembinaan inilah insiden kekerasan kembali mencuat.

AspekLiga 1 (Senior)EPA (Usia Muda)
Pengawalan busStandar kepolisianMinim
Personel keamananRatusan personelTerbatas
Potensi eskalasiTerkontrolRentan
Perhatian mediaTinggiRendah

Pengamat sepak bola Indonesia yang enggan disebutkan namanya menilai kerentanan keamanan di level EPA kerap terabaikan. "Fokus keamanan selalu tertuju pada laga senior, padahal pemain muda justru lebih rentan secara psikologis. Satu insiden kecil bisa mengguncang mental mereka," ujarnya.

Analisis: Langkah Hukum dan Pencegahan

Aditya meminta seluruh pihak tidak mengaitkan insiden ini dengan Jakmania secara kolektif. Ia juga mengimbau aparat menindak tegas pelaku agar efek jera terbangun. Di sisi lain, ia menyerukan rekonsiliasi antarsuporter serta penguatan pengawalan bagi tim tamu, termasuk di level pembinaan usia muda.

Ke depan, PSSI dan klub diharapkan memperketat protokol keamanan untuk seluruh kategori umur. Pengawalan polisi, pemisahan jalur suporter, hingga pemasangan kamera pengawas di rute perjalanan tim menjadi langkah konkret yang bisa mencegah terulangnya insiden serupa. Kabar baiknya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, pesan Ketua Jakmania sudah jelas: sepak bola Indonesia tidak boleh lagi dinodai aksi anarkis, terutama yang menyasar generasi penerus bangsa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User