JAKARTA — BARU SAJA, pemerintah membuka peluang menerapkan moratorium smelter nikel yang hanya memproduksi bahan setengah jadi. Kebijakan ini dikonfirmasi sebagai respons atas kelebihan kapasitas yang mengancam harga nikel global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menyatakan opsi moratorium sedang dikaji secara serius. Langkah itu dinilai tepat untuk menahan ekspansi smelter yang tidak memberi nilai tambah maksimal.
Alasan Moratorium Mendesak
Pengamat menilai ekspansi smelter produk setengah jadi justru memperparah kelebihan pasokan. Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, menyebut risiko itu nyata.
- Kelebihan pasokan nikel global kian menekan harga.
- Kapasitas smelter saat ini tidak seimbang dengan produksi bijih.
- Hilirisasi masih didominasi produk setengah jadi.
- Moratorium diharapkan mengendalikan penambahan kapasitas baru.
"Risikonya memperparah kelebihan pasokan dan menekan harga. Kebijakan ini diharapkan mengendalikan penambahan kapasitas smelter," kata Bisman, Senin (12/10).
Namun ia menegaskan moratorium saja tidak cukup. Perlu penataan produksi bijih, evaluasi kapasitas smelter, dan percepatan industri hilir. Orientasi harus digeser dari memperbanyak smelter menuju pendalaman hilirisasi.
"Outputnya bukan lagi sekadar produk olahan nikel setengah jadi, tetapi bahan baterai, stainless steel, komponen industri, dan produk manufaktur berbasis nikel," ujarnya.
Peringatan agar Tidak Terburu-buru
Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI), Sofyano Zakaria, menilai moratorium bisa menahan ekspansi. Tetapi ia memperingatkan kebijakan itu harus dirumuskan detail, bukan terburu-buru.
"Moratorium mungkin menahan kapasitas produksi baru, namun efektivitasnya mengatasi kelebihan pasokan global bergantung pada skala produksi, permintaan dunia, serta kebijakan negara produsen lain," kata Sofyano.
UPDATE menit lalu: pemerintah belum menetapkan tanggal resmi moratorium. KONFIRMASI dari Kementerian ESDM menyebut kajian masih berjalan dan akan melibatkan pelaku industri.
Saksi mata di sektor pertambangan menyebut sejumlah smelter baru tetap beroperasi. Para pelaku usaha menanti kepastian aturan agar investasi hilirisasi tidak terganggu.
Perkembangan ini menjadi sorotan karena Indonesia adalah produsen nikel terbesar dunia. Kebijakan moratorium berpotensi mengubah peta pasokan global dan arah industri baterai nasional.
Pemerintah diminta segera menyusun peta jalan hilirisasi yang utuh. Tujuannya agar nilai tambah lebih besar dan ekosistem industri hilir berbasis nikel benar-benar terbangun.
Comments (0)