JAKARTA — Wakil Menteri Sosial menegaskan wali asuh Sekolah Rakyat wajib bekerja dengan hati, bukan sekadar menjalankan tugas administratif. Arahan itu disampaikan dalam pelatihan pengasuhan bagi wali asuh dan pengelolaan asrama bagi wali asrama Sekolah Rakyat.
"Pendampingan ini bukan pekerjaan biasa. Ini soal membentuk masa depan anak," tegas Wamensos dalam pembukaan pelatihan, dikonfirmasi langsung dari lokasi acara.
Pelatihan ini menjadi langkah awal pembenahan sistem pengasuhan di lingkungan Sekolah Rakyat. Para wali asuh dituntut memahami psikologi anak, bukan hanya mengawasi kegiatan harian.
Fakta Kunci Pelatihan
- Peserta: wali asuh dan wali asrama Sekolah Rakyat dari berbagai daerah.
- Materi: teknik pengasuhan, pengelolaan asrama, dan pendampingan cita-cita anak.
- Tujuan: anak asuh mampu meraih cita-cita setinggi mungkin.
- Penekanan: kerja dengan hati, bukan sekadar rutinitas.
Bukan Sekadar Pengawasan
Wamensos menekankan wali asuh harus hadir secara emosional bagi anak. Anak-anak Sekolah Rakyat, menurutnya, butuh sosok yang dipercaya, bukan hanya pengawas asrama.
"Kalau hanya mengawasi, anak akan menjauh. Kalau mendampingi dengan hati, anak akan tumbuh," ujarnya.
Pesan itu langsung menyasar inti persoalan: kualitas hubungan antara wali asuh dan anak menentukan keberhasilan pendidikan karakter. Pelatihan ini dirancang agar wali asuh punya bekal konkret, bukan sekadar teori.
Pengelolaan Asrama Jadi Sorotan
Selain pengasuhan, pengelolaan asrama juga menjadi fokus. Wali asrama dilatih menciptakan lingkungan aman, disiplin, dan mendukung perkembangan anak.
Lingkungan asrama yang sehat disebut menjadi kunci agar anak betah belajar. Tanpa itu, potensi anak sulit berkembang maksimal.
Pelatihan ini juga menyiapkan wali asuh menghadapi tantangan harian, mulai dari konflik antar-anak hingga motivasi belajar yang naik-turun.
Dampak yang Diharapkan
Kementerian Sosial berharap pelatihan ini menjadi titik balik kualitas pengasuhan di Sekolah Rakyat. Indikatornya jelas: anak lebih percaya diri, punya arah, dan berani bercita-cita tinggi.
Perkembangan berikutnya akan dipantau langsung. Jika berhasil, model pengasuhan ini bisa direplikasi ke sekolah lain.
"Kami tidak ingin anak hanya lulus. Kami ingin anak sukses dengan karakter kuat," pungkas Wamensos.
Pelatihan berlangsung intensif dengan sesi praktik dan diskusi kasus nyata. Para peserta dibekali simulasi pendampingan anak, termasuk cara menangani anak yang kehilangan motivasi.
Beritatercepat akan terus memantau perkembangan program ini. Pantau terus update selanjutnya.
Comments (0)