Oct 10, 2026
Nasional

Penyakit Jantung Sering Muncul Tanpa Gejala, Dokter Ungkap Cara Pencegahan

JAKARTA — Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia maupun dunia. Yang membuatnya berbahaya, kondisi ini kerap ber

Penyakit Jantung Sering Muncul Tanpa Gejala, Dokter Ungkap Cara Pencegahan

JAKARTA — Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia maupun dunia. Yang membuatnya berbahaya, kondisi ini kerap berkembang secara diam-diam tanpa menimbulkan keluhan atau gejala yang jelas. Banyak orang merasa sehat-sehat saja, namun tiba-tiba mengalami serangan jantung yang fatal.

Dokter spesialis jantung mengingatkan bahwa penyakit jantung tidak selalu ditandai dengan nyeri dada hebat seperti yang digambarkan di film. Justru, pada banyak kasus, penyempitan pembuluh darah koroner berlangsung perlahan selama bertahun-tahun tanpa disadari penderitanya.

Kenapa Penyakit Jantung Bisa Tanpa Gejala?

Menurut para ahli kardiologi, ada beberapa alasan mengapa penyakit jantung bisa "silent" atau tanpa gejala:

  • Penumpukan plak berlangsung lambat — Aterosklerosis atau pengerasan pembuluh darah terjadi bertahap, sehingga tubuh sempat beradaptasi dengan aliran darah yang berkurang.
  • Gejala tidak khas — Keluhan sering dikira masuk angin, kelelahan biasa, atau gangguan pencernaan, terutama pada wanita dan penderita diabetes.
  • Kerusakan saraf jantung — Pada penderita diabetes, neuropati dapat mematikan sinyal nyeri jantung sehingga serangan datang mendadak.
"Penyakit jantung dapat berkembang tanpa menimbulkan keluhan atau gejala yang jelas, sehingga seseorang yang merasa sehat justru berisiko mengalami serangan mendadak. Inilah yang disebut silent killer," ujar dokter spesialis jantung dalam keterangannya.

Faktor Risiko yang Sering Diabaikan

Sejumlah faktor risiko membuat seseorang lebih rentan mengalami penyakit jantung tanpa gejala. Berikut poin-poin penting yang perlu diwaspadai:

  1. Hipertensi — Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol mempercepat kerusakan dinding pembuluh darah.
  2. Kolesterol tinggi — Kadar LDL berlebih memicu pembentukan plak di arteri koroner.
  3. Diabetes melitus — Gula darah tinggi merusak pembuluh darah dan saraf jantung.
  4. Kebiasaan merokok — Nikotin dan zat beracun rokok mempersempit pembuluh darah.
  5. Obesitas dan kurang aktivitas fisik — Memperberat kerja jantung setiap hari.
  6. Riwayat keluarga — Faktor genetik meningkatkan risiko sejak usia muda.

Langkah Pencegahan yang Dianjurkan Dokter

Karena sering tidak bergejala, deteksi dini menjadi kunci. Dokter menekankan pentingnya pemeriksaan rutin, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko di atas.

  • Cek kesehatan berkala — Periksa tekanan darah, gula darah, dan profil lipid minimal setahun sekali.
  • Pola makan sehat — Kurangi garam, gula, dan lemak jenuh; perbanyak sayur, buah, dan ikan.
  • Olahraga teratur — Minimal 30 menit aktivitas aerobik, 5 kali seminggu.
  • Berhenti merokok dan hindari paparan asap rokok.
  • Kelola stres dan pastikan tidur cukup 7–8 jam per hari.
  • Konsultasi dokter bila ada keluhan ringan seperti cepat lelah, sesak saat aktivitas, atau nyeri ulu hati berulang.

Jangan Tunggu Gejala Muncul

Pesan utama dari para dokter adalah jangan menunggu gejala muncul untuk mulai peduli pada kesehatan jantung. Pasalnya, ketika gejala muncul, sering kali kerusakan sudah cukup parah. Dengan menerapkan gaya hidup sehat dan rutin memeriksakan diri, risiko serangan jantung mendadak bisa ditekan secara signifikan.

"Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Jantung yang sehat hari ini adalah investasi umur panjang di masa depan," pungkas dokter.

Masyarakat diimbau tidak mengabaikan tanda-tanda ringan dan segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan terdekat bila merasa ada kelainan pada tubuh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User