Oct 10, 2026
breaking

Pegiat Literasi Puji Sistem Perjenjangan Buku Mudahkan Orang Tua Pilih Bacaan Anak

JAKARTA — Pegiat literasi menyambut positif kebijakan perjenjangan buku yang dinilai memudahkan orang tua memilih bacaan sesuai usia dan kemampuan anak. Dukungan itu disampaikan dalam diskusi litera...

Pegiat Literasi Puji Sistem Perjenjangan Buku Mudahkan Orang Tua Pilih Bacaan Anak

JAKARTA — Pegiat literasi menyambut positif kebijakan perjenjangan buku yang dinilai memudahkan orang tua memilih bacaan sesuai usia dan kemampuan anak. Dukungan itu disampaikan dalam diskusi literasi yang digelar secara daring, Kamis (12/9/2024).

Kebijakan ini dinilai menjadi terobosan penting di tengah banjirnya judul buku anak di pasaran. Orang tua kini punya panduan jelas, bukan lagi menebak-nebak.

Membantu Orang Tua Pilih Buku

Selama ini, banyak orang tua mengaku bingung saat masuk toko buku. Rak dipenuhi ratusan judul dengan label usia yang tidak seragam. Kondisi itu membuat orang tua asal pilih.

Sistem perjenjangan hadir menjawab kebingungan tersebut. Buku dikelompokkan berdasarkan tahap pembaca, mulai dari pembaca awal hingga mahir. Setiap jenjang punya kriteria jelas soal kosakata, panjang kalimat, dan tema.

  • Jenjang pembaca awal untuk anak yang baru mengenal huruf.
  • Jenjang pembaca madya untuk anak yang sudah lancar membaca.
  • Jenjang pembaca mahir untuk anak yang siap teks lebih kompleks.
  • Setiap buku dilengkapi penanda jenjang di sampul.

Menurut pegiat literasi, keberadaan penanda ini memangkas waktu orang tua saat memilih. Mereka tidak perlu lagi membaca sinopsis satu per satu.

Dampak bagi Minat Baca Anak

Pegiat literasi menekankan, buku yang sesuai kemampuan membuat anak lebih percaya diri. Anak tidak frustrasi karena teks terlalu sulit. Sebaliknya, anak juga tidak bosan karena bacaan terlalu mudah.

"Buku yang tepat membuat anak merasa mampu. Dari rasa mampu itu tumbuh kebiasaan membaca," ujar seorang pegiat literasi dalam diskusi tersebut.

Kebiasaan membaca, lanjutnya, tidak lahir dari paksaan. Ia lahir dari pengalaman membaca yang menyenangkan dan berulang.

Data menunjukkan tingkat literasi anak masih menjadi pekerjaan rumah besar. Akses terhadap buku yang sesuai jenjang dinilai menjadi salah satu kunci pembenahan.

Dorong Peran Sekolah dan Perpustakaan

Selain orang tua, sekolah dan perpustakaan diminta aktif memanfaatkan sistem ini. Guru bisa menyusun daftar bacaan wajib sesuai jenjang siswa. Perpustakaan bisa menata rak berdasarkan jenjang, bukan sekadar abjad atau pengarang.

Langkah itu dinilai mempermudah anak menemukan buku. Anak cukup menuju rak sesuai jenjangnya, lalu memilih judul yang menarik perhatian.

Pegiat literasi juga mendorong sosialisasi masif ke daerah. Selama ini, informasi soal perjenjangan belum merata. Orang tua di kota besar lebih cepat tahu dibanding orang tua di pelosok.

Perkembangan ke Depan

Ke depan, pegiat literasi berharap jumlah buku per jenjang terus ditambah. Ketersediaan buku yang merata akan menentukan keberhasilan kebijakan ini.

Mereka juga mengusulkan adanya pelatihan bagi orang tua dan guru. Pelatihan itu penting agar pendampingan membaca berjalan optimal.

Dengan sistem yang jelas dan dukungan semua pihak, anak-anak Indonesia diharapkan tumbuh sebagai pembaca aktif. Bukan sekadar bisa membaca, tetapi juga mencintai bacaan.

Perkembangan kebijakan ini akan terus dipantau. Publik menantikan realisasi di lapangan, terutama di sekolah dan perpustakaan daerah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS pandu-rangga

Reporter Bencana. Spesialisasi mitigasi bencana dan tanggap darurat.

Comments (0)

User