JAKARTA, BERITATERCEPAT.COM — Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch (IMEW) Ferdy Hasiman menilai kembali beroperasinya dua fasilitas pemurnian atau smelter milik PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadi sinyal positif bagi penguatan hilirisasi mineral nasional. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menekankan penambahan nilai tambah di dalam negeri sebelum komoditas mineral diekspor.
Ferdy menyebut pengoperasian kembali kedua smelter tersebut memperkuat kapasitas pemrosesan bahan baku mineral, khususnya komoditas tembaga dan produk turunannya, sehingga Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan mentah ke pasar global. Menurut dia, kehadiran smelter yang berjalan optimal akan menciptakan rantai pasok yang lebih panjang di dalam negeri, mulai dari pertambangan, pengolahan, hingga industri manufaktur hilir.
Respons IMEW atas Pengoperasian Smelter
Dalam keterangannya, Ferdy Hasiman menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar kebijakan larangan ekspor bahan mentah, melainkan upaya membangun ekosistem industri yang berkelanjutan. "Smelter yang beroperasi penuh adalah bukti bahwa hilirisasi tidak berhenti di atas kertas. Tanpa pemurnian, nilai tambah negara akan tergerus karena kita hanya menjual bahan mentah dengan harga komoditas semata," ujar Ferdy.
Menurut IMEW, pengoperasian kembali kedua fasilitas itu perlu dibarengi dengan transparansi tata kelola, kepatuhan standar lingkungan, serta komitmen penyerapan tenaga kerja lokal. Pasalnya, keberhasilan hilirisasi tidak hanya dihitung dari kapasitas produksi, tetapi juga dari dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat di sekitar kawasan industri.
- Penguatan kapasitas nasional: beroperasinya kembali smelter menambah kapasitas pemurnian yang sempat berkurang akibat gangguan operasional.
- Penambahan nilai ekspor: produk jadi dan setengah jadi memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding bahan mentah.
- Dampak industri pendukung: aktivitas smelter menggerakkan sektor logistik, energi, dan jasa teknis di kawasan sekitar.
- Tantangan lingkungan: kepatuhan pengelolaan limbah dan emisi menjadi syarat agar hilirisasi tetap berkelanjutan.
Membandingkan Model Hilirisasi
| Aspek | Ekspor Bahan Mentah | Hilirisasi via Smelter |
|---|---|---|
| Nilai tambah | Rendah | Lebih tinggi |
| Serapan tenaga kerja | Terbatas | Lebih luas |
| Ketergantungan harga komoditas | Tinggi | Lebih terkendali |
| Tuntutan lingkungan | Relatif terbatas | Tinggi dan wajib dipatuhi |
Secara industri, PTFI telah menanamkan investasi besar dalam pembangunan fasilitas pemurnian di dalam negeri sebagai bagian dari komitmen kontrak karya dan program hilirisasi pemerintah. Pengoperasian smelter juga berkaitan langsung dengan target produksi bijih yang lebih besar serta kebutuhan memenuhi pasar tembaga regional yang terus tumbuh.
Di sisi lain, IMEW mengingatkan bahwa kapasitas smelter harus diimbangi dengan pasokan bahan baku yang stabil. Gangguan pasokan, fluktuasi harga komoditas global, maupun perubahan kebijakan ekspor bisa mempengaruhi utilisasi fasilitas pemurnian. "Yang dibutuhkan sekarang adalah kepastian regulasi dan pendampingan teknis agar smelter bisa jalan optimal, bukan sekadar sesekali," tambah Ferdy.
Harapan terhadap Kebijakan Hilirisasi
IMEW menilai keberhasilan dua smelter PTFI ini bisa menjadi rujukan bagi pengelola smelter lain, termasuk di sektor nikel dan bauksit. Evaluasi berkala terhadap kinerja operasional, emisi, dan dampak sosial perlu dilakukan agar manfaat hilirisasi benar-benar dirasakan luas.
Ferdy juga menekankan pentingnya riset dan pengembangan agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi pemurnian, tetapi juga pusat inovasi material. Dengan demikian, hilirisasi tidak berhenti pada produk setengah jadi, melainkan bergerak menuju produk akhir yang lebih bernilai tinggi.
"Pengoperasian kembali smelter adalah langkah konkret. Tinggal kita jaga agar keberlanjutannya tidak terhenti karena persoalan tata kelola atau persaingan harga global," ujar Ferdy Hasiman.
Secara keseluruhan, arah kebijakan hilirisasi Indonesia terus menunjukkan kemajuan meski dihadapkan pada tantangan biaya energi, kebutuhan infrastruktur, serta tekanan pasar internasional. Dukungan terhadap operasional smelter dinilai krusial untuk menjaga daya saing industri mineral nasional dalam jangka panjang.
Comments (0)