BARU SAJA, pegiat literasi menyambut positif kebijakan perjenjangan buku yang dinilai memudahkan orang tua dalam memilih bacaan sesuai usia anak. Kebijakan ini dikonfirmasi sebagai terobosan penting untuk meningkatkan minat baca generasi muda.
Perjenjangan buku adalah sistem pengelompokan bacaan berdasarkan tingkat perkembangan dan kemampuan anak. Dengan sistem ini, orang tua tidak lagi bingung memilih buku yang tepat.
Respons Pegiat Literasi
Para pegiat literasi menilai langkah ini sebagai terobosan signifikan. Mereka menyebut sistem ini menjawab keresahan lama orang tua di toko buku maupun perpustakaan.
- Memudahkan pemilihan bacaan sesuai usia dan kemampuan anak
- Mengurangi kebingungan orang tua saat membeli buku
- Mendorong minat baca sejak dini secara bertahap
- Menjadi panduan bagi penerbit dan penulis buku anak
"Ini angin segar bagi dunia literasi. Orang tua kini punya rambu jelas," ujar seorang pegiat literasi di Jakarta, Kamis.
Dampak bagi Orang Tua
Selama ini, banyak orang tua dilaporkan kesulitan menentukan buku yang cocok. Mereka sering membeli buku yang terlalu sulit atau justru terlalu mudah untuk anak.
Dengan perjenjangan, setiap buku dikelompokkan berdasarkan tahap pembaca. Mulai dari pembaca awal hingga pembaca mahir. Sistem ini dianggap lebih ramah dan terukur.
- Pembaca awal: buku bergambar dengan kalimat pendek
- Pembaca madya: cerita sederhana dengan kosakata berkembang
- Pembaca mahir: teks lebih panjang dan alur kompleks
Seorang ibu di Bandung mengaku terbantu. "Dulu saya asal pilih. Sekarang tinggal lihat jenjangnya," katanya.
Perkembangan ke Depan
Pegiat literasi berharap sistem ini terus disosialisasikan. Mereka mendorong agar perjenjangan diterapkan di sekolah, perpustakaan, dan toko buku.
Selain itu, pelatihan bagi guru dan pustakawan dinilai penting. Tujuannya agar pendampingan membaca berjalan optimal.
Pemerintah diminta memastikan ketersediaan buku di setiap jenjang. Tanpa pasokan memadai, sistem ini berisiko tidak berjalan maksimal.
"Jangan hanya konsep. Buku fisiknya harus tersedia merata," tegas seorang penggerak literasi daerah.
Sejumlah pengamat menilai kebijakan ini dapat mendorong budaya baca. Namun, tantangan utama tetap pada akses dan distribusi buku ke daerah terpencil.
Catatan Penting
Perjenjangan buku bukan sekadar label. Ia menjadi jembatan antara anak dan bacaan yang tepat.
Dengan sistem ini, anak diharapkan tumbuh dengan pengalaman membaca menyenangkan. Bukan justru frustrasi karena buku terlalu berat.
Perkembangan selanjutnya akan dipantau. Pegiat literasi menanti implementasi nyata di lapangan.
"Ini awal baik. Sekarang tinggal eksekusinya," pungkasnya.
Comments (0)