JAKARTA — BARU SAJA, pemerintah mengonfirmasi distribusi masif 500 unit CT scan dan 500 unit catheterization laboratory (cath lab) ke 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut pengadaan ini sebagai salah satu langkah terbesar dalam sejarah peralatan medis nasional.
"Kami membeli 500 CT scan, 500 cath lab, mamografi, lemari obat sitotoksik untuk kemoterapi, dan fasilitas hemodialisis. Distribusi sudah dimulai sejak tahun lalu," ujar Budi dalam acara Economic & Diplomacy Breakfast di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Jumat (9/10).
Pemicu: Kisah Personal Sang Menteri
Di balik kebijakan ini, Budi mengungkap alasan emosional yang mendorongnya bergerak cepat. Ibunya mengalami stroke di Bogor. Saat itu, tidak ada CT scan berfungsi di kota tersebut.
"Dibutuhkan enam jam sejak tanda pertama stroke ibu saya untuk sampai ke rumah sakit di Jakarta, di-scan, dan ditangani. Saat itu sudah terlambat," kata Budi.
Pengalaman itu, menurutnya, membuka mata bahwa fasilitas kesehatan di banyak daerah jauh dari standar. "Cerita pribadi itu mengajarkan saya bahwa fasilitas kesehatan di Indonesia itu keterlaluan. Tidak memenuhi standar," tegasnya.
Pendanaan Rp60 Triliun dari Sindikasi Bank Internasional
UPDATE: Untuk membiayai pengadaan raksasa ini, pemerintah mengupayakan pinjaman senilai 4 miliar dolar AS atau sekitar Rp60 triliun. Dana dikonfirmasi berasal dari sindikasi Bank Dunia, Bank Pembangunan Islam, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB).
- 500 unit CT scan untuk diagnosis stroke, tumor, dan cedera internal
- 500 unit cath lab untuk prosedur jantung dan pembuluh darah
- Mamografi untuk deteksi dini kanker payudara
- Lemari obat sitotoksik untuk kemoterapi aman
- Fasilitas hemodialisis untuk pasien gagal ginjal
514 Kab/Kota Jadi Target Distribusi
Distribusi menyasar seluruh 514 kabupaten/kota. Menurut data yang dihimpun, banyak daerah sebelumnya hanya memiliki satu CT scan dengan kondisi rusak atau tidak beroperasi.
CT scan berfungsi mendeteksi kondisi medis darurat seperti perdarahan otak, sedangkan cath lab mendukung tindakan intervensi jantung tanpa operasi terbuka. Kedua alat ini disebut sebagai "penyelamat nyawa" di jam-jam kritis.
Saksi mata di sejumlah daerah menyebut kedatangan alat ini dinanti puluhan tahun. "Kami harus merujuk pasien 4-6 jam ke ibu kota provinsi. Sekarang tidak lagi," ujar seorang tenaga medis di kawasan timur Indonesia.
Pemerintah menegaskan distribusi berlanjut bertahap. Kemenkes memastikan setiap rumah sakit penerima mendapat pelatihan operator dan pemeliharaan alat. Siaga penuh: target seluruh alat terpasang dan beroperasi dalam waktu dekat.
Comments (0)